Selasa, 17 April 2012

Teknik pemeriksaan dan pemberian skor hasil belajar

Teknik Pemeriksaan Hasil tes Hasil Belajar
Dalam teknik pemeriksaan hasil belajar siswa dibagi menjadi dua (2) yaitu :
1.   Teknik pemeriksaan hasil tes tertulis
            Sebagai mana telah dibahas dalam materi sebelumnya bahwa tes hasil belajar yang diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu tes hasil belajar tertulis bentuk uraian dan tes hasil belajar tertulis bentuk objektif, kedua bentuk tes hasil itu memiliki karakteristik yang berbeda.
a.       Teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar bentuk uraian
           Tenik ini dilakukan dengan begitu soal tes uraian selesai disusun hendaknya tester segera membuat kunci jawaban/pedoman jawaban, kunci jawaban ini digunakan sebagai pegangan atau patokan dalam pemeriksaan atau pengoreksian terhadap tes hasil tes uraian dengan cara membandingkan antara jawaban yang diberikan oleh teste dengan kunci jawaban yang dibuat oleh tester.
Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil – hasil tes hasil tes urain ini terdapat dua hal yang harus dipertimbangkan yaitu:
v  Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes hasil belajar
               Artinya apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu didasarkan pada standar mutlak maka, prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
·      Membaca jawaban yang diberikan oleh teste dan membandingkannya dengan kunci jawaban yang sudah dibuat.
·      Atas dasar hasil perbandingan antara jawaban teste dengan kunci jawaban tersebut, tester dapat memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskan pada jawaban teste tersebut.
·      Menjumlahkan skor-skor tersebut dalam pengolahan dan penentuan nilai lebih lanjut.
v  Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes subjektif itu didasarkan pada standar relative
      Artinya apabila nantinya pengolahan dan penentuan niali didasarkan pada standar relative maka prosedur pemeriksaannya sebagai berikut :
·      Memeriksa jawaban atas soal nomor satu misalnya yang diberikan oleh selurus teste sehingga diperoleh gambaran maka dapat diketahui mana teste yang lengkap,kurang lengkap dan tidak tepat sama sekali.
·      Memberikan skor terhadap jawaban tersebut misalkan jawaban yang tepat diberi skor 5, kurang tepat 3.
·      Setelah jawaban atas seluruh teste tersebut selesai maka dapat dilakukan penjumlahan skor yang nantinya dijadikan bahan untuk mengolah nilai.
b.      Teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar bentuk objektif
Memeriksa atau mengoreksi jawaban atas soal tes objektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban, ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk mengoreksi jawaban soal tes objektif, yaitu  sebagai berikut :
1)      Kunci berdampingan ( strip keys )
            Kunci jawaban berdamping ini terdiri dari jawaban – jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas kebawah, adapun cara menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa  kemudian cocokanlah dengan lembar jawaban yang diberikan oleh tested an apabila jawaban yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda ( + ) dan apabila salah diberi tanda ( - ).
2)      Kunci system karbon ( carbon system key )
              Pada kunci jawaban system ini teste diminta membubuhkan tanfda silang ( X ) pada salah satu jawaban yang mereka anggap benar kemudian kunci jawaban yang telah dibuat oleh teste tersebut diletakan diatas lembar  jawaban teste yang sudah ditumpangi karbon kemudian tester memberikan lingkaran pada setiap jawaban yang benar sehingga ketika diangkat maka, dapat diketahui apabila jawaban teste yang berada diluar lingkaran berarti salah sedangkan yang berada didalam adalah benar.
3)      Kunci system tusukan ( panprick system key )
             Pada dasarnya kunci system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon. Letak perbedaannya ialah pada kunci sitem ini, untuk jawaban yang benar diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara lembar jawaban teste berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi menembus lembar jawaban yang ada dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena tusukan dsedangkan yang salah tidak.
4)      Kunci berjendela ( window key )
            Prosedur kunci berjendela ini adalah sebagai berikut :
a)      Ambilah blanko lembar jawaban yang masih kosong
b)      Pilihan jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah – olah menyerupai jendela
c)      Lembar jawaban teste diletakan dibawah  kunci berjendela
d)     Melalui lubang tersebut kita dapat membuat garis vertical dengan pencil warna sehingga jawaban yang terkena pencil warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.
2.      Teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes lisan
         Pemeriksaan atau koreksi yang dilaksanakan dalam rangka menilai jawaban – jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan, pada umumnya bersifat subjektif, sebab dalam tes lisan itu tester tidak berhadapan dengan lembar jawaban soal yang wujudnya adalah benda mati, melainkan berhadapan dengan individu atau makhluk hidup yang masing – masing mempunyai cirri dan karakteristik berbeda sehingga memungkinkan bagi tester untuk bertindak kurang atau bahkan tidak objektif.
         Dalam hubungan ini, pemeriksaan terhadap jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti, misalnya sebagai berikut :
a)      Kelengkapan jawaban yang diberikan oleh testee.
       Pernyataan tersebut mengandung makna “ apakah jawaban yang diberikan oleh testee sudah memenuhi semua unsure yang seharusnya ada dan sesuai dengan pedoman/ kunci jawanban yang telah disusun oleh tester
b)      Kelancaran testee dalam mengemukakan jawaban
       Mencakup apakah dalam memberikan jawaban lisan atas soal – soal yang diajukan kepada testee itu cukup lancer sehingga mencerminkan tingkat pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang diajukan kepadanya
c)      Kebenaran jawaban yang dikemukakan
       Jawaban panjang yang dikemukakan oleh testee secara lancar dihadapan tester, belum tentu merupakan jawaban yang benar sehingga tester harus benar – benar memperhatikan jawaban testee tersebut, apakah jawaban testee itu mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau sebaliknya.
d)     Kemampuan testee dalam mempertahankan pendapatnya
      Maksudnya, apakah jawaban yang diberikan dengan penuh kenyakinan akan kebenarannya atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh testee secara ragu – ragu merupakan salah satu indicator bahwa testee kurang menguasai materi yang diajukan kepadanya tersebut.
         Demikian seterusnya, penguji dapat menambahkan unsure lain yang dirasa perlu dijadikan bahan penilaian seperti : perilaku, kesopanan, kedisiplinan dalam menghadapi penguji ( tester )
3.      Teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes perbuatan
        Dalam tes perbuatan ini pemeriksaan hasil – hasil tes nya dilakukan dengan menggunakan observasi ( pengamatan ). Sasaran yang perlu diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap dan lain sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes perbuatan itu diperlukan adanya instrument tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu pula.
        Contoh: misalkan instrument yang dipergunakan dalam mengamati calon guru yang melaksanakan praktek mengajar, aspek – aspek yang diamati meliputi 17 unsur dengan skor minimum 1 (satu) dan maksimum 5 (lima).

Teknik Pemberian Skor Hasil Tes Hasil Belajar
          Pemberian skor (scoring) merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes yaitu proses pengubahan jawaban soal tes menjadi angka dengan kata lain, pemberian skor merupakan tindakan kuantifikasi terhadap jawaban yang diberikan oleh testee dalam suatu tes. Seterusnya angka – angka hasil tes tersebut diubah menjadi nilai melalui proses tertentu, penggunaan symbol un tuk menyatakan nilai tersebut dapat dalam bentuk angka maupun huruf.
Cara pemberian skor terhadap hasil tes hasil belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut baik tes uraian maupun objektif.
1.      Pemberian skor pada tes uraian
         Pada tes uraian ini, pemberian skor umumnya mendasar pada bobot soal yang diberikan pada setiap butir soal, atas dasar tingkat kesulitan atau banyak sedikitnya unsure yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap jawaban paling benar.
        Sebagai contoh misalkan tes subyektif memberikan lima butir soal, pembuat soal (tester) telah menetapkan bahwa kelima butir dari soal tersebut mempunyai derajat kesukaran yang sama dan unsure yang terdapat pada setiap butir soal telah dibuat sama banyaknya, maka atas dasar itu tester dapat menetapkan bahwa setiap jawaban yang dijawab oleh testee benar diberikan skor maksimum 10 jika hanya benar setengahnya maka diberi 5 dan apa bila tidak menyangkut sama sekali diberi skor 0 dan seterusnya.
2.      Pemberian skor pada tes obyektif
        Pada tes obyektif, untuk memberikan skor pada umumnya digunakan rumus correction for guessing atau sering dikenal dengan istilah denda. Untuk pemberian skor pada tes obyektif ini dibagi menjadi 3 bentuk yaitu:
·         Untuk tes obyektif ben true-false misalkan, setiap item diberi skor 1 (satu), apabila seorang testee menjawab dengan benar maka diberi skor 1 (satu) namun apabila dijawab salah maka skornya 0 (nihil).
       Adapun cara untuk menghitung skor terakhir dari seluruh item bentuk ini, dapat digunakan dua macam rumus yaitu:
Ø  Rumus yang memperhitungkan denda yaitu:
   S = R - W dibagi o - 1
    Dimana :
S = skor yang dicari               
R = jumlah jawaban benar           
W = jumlah jawaban salah   
O = option, jawaban yang kemungkinan benar or salah
1 = bilangan konstan 
Ø rumus yang tidak memperhitungkan denda yaitu :
    S = R
·         sedangkan untuk tes obyektif bentuk matching,fill in dan completion perhitungan skor akhir pada umumnya tidak memperhitungkan sanksi berupa denda sehingga rumus yang digunakan yaitu :
         S = R
·         adapun untuk tes obyektif bentuk multiple choice items dapat digunakan salah satu dari dua buah rumus yaitu rumus yang memperhitungkan denda dan rumus yang tidak memperhitungkan denda.
Ø  Rumus perhitungan skor dengan memperhitungkan denda :
             S = R - ( W dibagi o - 1 )
Ø  Sedangkan untuk rumus yang mangabaikan denda yaitu:
               S = R

Sabtu, 07 April 2012

Klasifikasi Taksonomi Bloom


 Pembagian Ranah taksonomi bloom
Dalam sejarah pengukuran dan penilaian pendidikan tercatat bahwa pada kurun waktu tahun empat puluhan , beberapa orang pakar pendidikan amerika serikat yaitu Benjamin s.Bloom  dkk. Mengembangkan suatu metode pengklasifikasian tujuan pendidikan yang disebut dengan taxonomy. Ide membuat taksonomi muncul setelah lebih kurang lima tahun mereka berkumpul mendiskusikan pengelompokan tujuan pendidikan yang pada akhirnya melahirkan sebuah karya yang berjudul “ taxonomy of educational objective (1956)”.
Dalam karya tersebut Benjamin S Bloom dkk. Berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan ) tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga (3) jenis domain (ranah) yang melekat pada diri peserta didik yaitu :
·         Ranah proses berfikir ( cognitive domain )
·         Ranah nilai dan sikap ( affective domain )
·         Ranah keterampilan  ( psychomotor domain )
 Dalam konteks evaluasi hasil belajar maka, ketiga domain itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi .
2.1 Ranah / domain kognitif
Ranah ini mecncakup kegiatan mental otak. Menurut bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah ini. Dalam ranah kognitif ini terdapat  enam jenjang proses berfikir , mulai dari jenjang rendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi yaitu sebagai berikut :
1.      Pengetahuan (Knowledge ) / C – 1
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh ketika seorang peserta didik disuruh untuk membahas mengenai lingkaran maka ia dapat menjelaskan mengenai tentang definisi, bagian- bagiannya dengan baik dan benar.
2.      Pemahaman ( comprehension ) / C – 2
Kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Pemahaman tersebut diperoleh dari mengetahui seperti: definisi,informasi, peristiwa, dan fakta yang kemudian disusun kembali dengan struktur kognitif yang ada.
3.      Penerapan (application ) / C – 3
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori,prinsip dsb di dalamberbagai situasi. Sebagai contoh, peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Analisis ( analysis ) / C – 4
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah materi matematika ,dan kemudian  membanding-bandingkan tingkat kesulitan materi, dan menggolongkan setiap materi sesuai dengan tingkat kesulitannya.
5.      Sintesis ( Synthesis ) / C – 5
Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, peserta didik mampu membuat sebuah karya/karangan dan dalam karangan tersebut peserta didik mampu mengemukakan secara jelas tentang karangan yang dibuatnya.
6.      Penilaian ( Evaluation ) / C – 6
Penilaian merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat menimbang-nimbang tentang manfaat yang akan peroleh dari perilaku disiplin dan mampu menunjukan akibat negative dari perilaku malas.
2.2 Ranah / Domain Afektif
Ranah ini pada mula-mula dikembangkan oleh David R. Krathwohl dkk (1974). Ranah afektif adalah ranah / kawasan yang berkaitan dengan dengan aspek – aspek emosional seperti perasaan , minat, nilai dan sikap serta kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Ciri – ciri dari hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku seperti : perhatian peserta didik dalam mengikuti pembelajaran matematika, kemudian memiliki dorongan yang kuat dalam mengikuti pelajaran tersebut serta mempunyai rasa hormat terhadap guru yang mengajar matematika tersebut.
Pada ranah afektif ini David R. Krathwohl dan kawan-kawan  (1974) membagi secara rinci mejadi 5 jenjang yaitu sebagai berikut :
1)      Penerimaan (receiving/attending)
Receiving adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan/stimulus dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah,situasi dan lain – lain. Receiving ini juga sering kali diartikan sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai  yang diajarkan kepada mereka dan mereka besedia untuk memfokuskan perhatian pada saja objek yang diajarkan. Sebagai contoh : peserta didik menyadari bahwa perbuatan menyontek itu tidak baik sehingga harus mereka tinggalkan.
2)      Sambutan (Responding)
Sambutan ini mengandung arti adanya partisipasi aktif, jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya. Sebagai contoh dari jenjang responding ini salah satunya yaitu timbulnya keinginan untuk mempelajari lebih dalam lagi materi matematika misalnya tentang turunan dll.
3)      Penilaian (valuing)
Valuing disini artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek sehingga apabila hal tersebut tidak dikerjakan dirasakan akan membawa kerugian bagi dirinya. Dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar ,peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan saja tetapi ia juga mampu menilai konsep atau fenomena yaitu “baik atau buruk “ bila suatu ajaran gtelah mampu mereka nilai “itu adalah baik” maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian dan kemudian nilai tersebut akan diingat dalam dirinya.
4)      Pengorganisasian (organization)
Organization disini artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal yang membawa kepada perbaikan umum. Mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu system organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai yang lain. Sebagai contoh dari hasil belajar jenjang ini adalah misalnya seorang peserta menyukai materi matematika tentang bangun ruang maka ia akan menempatkan materi bangun ruang tersebut pada tingkatan yang amat penting kemudian baru menyusul materi lain yang ia rasakan agak penting dan seterusnya.
5)      Karakterisasi ( characterization)
Karakterisasi yaitu keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki  seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya, disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam suatu hierarkhi nilai. Jika panda tahap pengorganisasian system nilai sudah dapat disusun maka susunan tersebut belum konsisten artinya masih dapat berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi maka, pada tahap ini nilai tersebut sudah tertanam secara konsisten pada system dan telah mempengaruhi emosinya. Sebagai contoh dari hasil belajar tahap ini adalah peserta didik telah memiliki kebulatan tekat yang kuat untuk menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang akan ditekuninya untuk meningkatkan pendidikan diindonesia.
2.3 Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan yang melibatkan fungsi system syaraf dan otot serta fungsi psikis. Kawasan / ranah terdiri dari :

1)      Kesiapan ( set )
Kesiapan ini berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya, mempersiapkan alat, menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab pertanyaan.
2)      Peniruan ( imitation )
Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamati walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. Sebagai Contoh : seorang anak yang meniru bahasa tanpa mengetahui arti yang ditirunya.
3)      Membiasakan ( habitual )
Membiasakan adalah seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh sekalipun ia belum dapat mengubah polanya.
4)      Menyesuaikan ( adaptation )
Menyesuaikan yaitu seseorang dapat melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat ketrampilan itu dilaksanakan.
5)      Menciptakan ( origination )
Dalam hal ini seseorang sudah mampu menciptakan suatu karya dengan kemampuannya atau keterampilannya sendiri.
 sumber referensi :
1.                                       http://fisikasma-online.blogspot.com/2011/10/taksonomi-bloom-ranah-kognitif.html
2.                                       Prof.drs. Sudijono Anas ,2007. pengantar evaluasi pendidikan, Jakarta:PT rajagrafindo persada.
3.                                       http://id.wikipedia.org/wiki/ Taksonomi_Bloom.html

Kamis, 29 Maret 2012

Taksonomi media menurut ahli


Taksonomi / klasifikasi Media
            Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instrusional di samping pesan, orang, teknik dan peralatan. Dari usaha penantaan yang timbul yaitu pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan atau karakteristiknya.
Beberapa contoh usaha ke arah taksonomi media tersebut antara lain :
1)Taksonomi menurut Rudy Bretz
            Bertz mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok, yaitu : suara, visual dan gerak. Visual dibedakan menjadi tiga yaitu garis ( line graphic ) dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Bretz juga membedakan antara media siar ( telecommunication ) dan media rekam ( recording ) sehingga terdapat 8 klasifikasi media, yaitu :
*      Media audiovisual gerak
*       Media audiovisual diam
*       Media audio semi-gerak
*       Media visual gerak
*       Media visual diam
*       Media semi-gerak
*       Media audio
*       Media cetak
2) Hirarki media menurut Duncan
             Dalam penyusunan taksonomi media menurut hirarki pemanfaatan untuk pendidikan, Duncan ingin mensejajarkan biaya investasi, kelangkaan dan keluasan lingkup sasarannya disatu pihak dan kemudahan pengadaan serta penggunaan, keterbatasan lingkup sasaran dan rendahnya biaya di lain pihak dengan tingkat kerumitan perangkat medianya dalam satu hirarki.
3) Taksonomi menurut Briggs
Briggs mengidentifikasi 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar, yaitu :

*        Obyek
*        Model
*        Suara langsung
*        Rekaman audio
*        Media cetak
*        Pembelajaran terprogram
*        Papan tulis
*        Media transparansi
*        Film rangkai
*        Film bingkai
*        Film
*        Televisi
*        Gambar

4) Taksonomi menurut Gagne
             dalam taksonominya gagne mengelompokan media menjadi 7 macam yaitu sebagai berikut :

Ø   Benda untuk didemontrasikan
Ø   Komunikasi lisan
Ø   Media cetak
Ø   Gambar diam
Ø   Gambra gerak
Ø   Film bersuara
Ø   Mesin belajar
5) Taksonomi menurut Edling
              Menurut Edling media merupakan bagian dari enam unsur rangsangan belajar, yaitu dua untuk pengalaman audio meliputi kodifikasi subyektif visual dam kodifikasi obyektif audio, dua untuk pengalaman visual meliputi kodifikasi obyektif audio dan kodifikasi obyektif visual dan dua pengalaman belajar 3 dimensi meliputi pengalaman langsung dengan orang dan pengalaman langsung dengan benda-benda.
6) Pengelompokan menurut Schramm ( 1977 )
             Schramm membedakan/mengelompokan media menjadi media rumit dan mahal ( big media ) dan media sederhana dan murah ( little media ). Ia juga mengelompokan media menurut daya liputnya menjadi media massal, media kelompok dan media individual.
7) Pengelompokan menurut Allen
               Dalam taksonominya Allen berusaha menghubungkan fungsi media dengan tujuan belajar yang hendak dicapai.

sumber : www.mtkstkip.co.cc dan sumber lain yang mendukung 

------------------ semoga bermanfaat -----------------------------

Senin, 19 Maret 2012

Pengertian Evaluasi Menurut Para Ahli


Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia, akan tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily, 2000 : 220). Sedangkan menurut pengertian istilah “evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan” (Yunanda : 2009).
Pemahaman mengenai pengertian evaluasi dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Menurut Stufflebeam dalam Lababa (2008), evaluasi adalah “the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan. Masih dalam Lababa (2008), Worthen dan Sanders mendefenisikan “evaluasi sebagai usaha mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu”. Tague-Sutclife (1996 : 1-3), mengartikan evaluasi sebagai  "a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils". Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tuiuan yang jelas.
Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, selanjutnya menyajikan informasi dalam rangka pengambilan keputusan terhadap implementasi dan efektifitas suatu program. Evaluasi meliputi mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan. Hubungan antara pengukuran dan penilaian saling berkaitan.
Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran atau kriteria tertentu (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai itu mengandung arti, mengambil keputusan terhadap sesuatu yang berdasarkan pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan sebagainya.
Dan penilaian bersifat kualitatif. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Arikunto (2009 : 3) bahwa mengukur adalah ,membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (bersifat kuantitatif), menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (bersifat kualitatif), dan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut di atas. Pendapat lain mengenai evaluasi disampaikan oleh Arikunto dan Cepi (2008 : 2), bahwa:Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.
 Sedangkan Uzer (2003 : 120), mengatakan bahwa: Evaluasi adalah suatu proses yang ditempuh seseorang untuk memperoleh informasi yang berguna untuk menentukan mana dari dua hal atau lebih yang merupakan alternatif yang diinginkan, karena penentuan atau keputusan semacam ini tidak diambil secara acak, maka alternatif-alternatif itu harus diberi nilai relatif, karenanya pemberian nilai itu harus memerlukan pertimbangan yang rasional berdasarkan informasi untuk proses pengambilan keputusan.
Menurut Djaali dan Pudji (2008 : 1), evaluasi dapat juga diartikan sebagai “proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi”. Sedangkan Ahmad(2007 : 133), mengatakan bahwa “evaluasi diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, obyek,dll.) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian”.
Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara membandingkan dengan kriteria, evaluator dapat langsung membandingkan dengan kriteria namun dapat pula melakukan pengukuran terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian baru membandingkannya dengan kriteria. Dengan demikian evaluasi tidak selalu melalui proses mengukur baru melakukan proses menilai tetapi dapat pula evaluasi langsung melalui penilaian saja.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Crawford (2000 : 13), mengartikan penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui/menguji apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan.
Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa ahli di atas, dapat ditarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Karenanya, dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. “Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inputnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses” (Sudharsono dalam Lababa, 2008).
 Jadi evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula.

 sumber : Universitas Sumatra Utara

Tentang Blog Ini

Blog ini di buat pada bulan December 2011