Sabtu, 07 April 2012

Klasifikasi Taksonomi Bloom


 Pembagian Ranah taksonomi bloom
Dalam sejarah pengukuran dan penilaian pendidikan tercatat bahwa pada kurun waktu tahun empat puluhan , beberapa orang pakar pendidikan amerika serikat yaitu Benjamin s.Bloom  dkk. Mengembangkan suatu metode pengklasifikasian tujuan pendidikan yang disebut dengan taxonomy. Ide membuat taksonomi muncul setelah lebih kurang lima tahun mereka berkumpul mendiskusikan pengelompokan tujuan pendidikan yang pada akhirnya melahirkan sebuah karya yang berjudul “ taxonomy of educational objective (1956)”.
Dalam karya tersebut Benjamin S Bloom dkk. Berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan ) tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga (3) jenis domain (ranah) yang melekat pada diri peserta didik yaitu :
·         Ranah proses berfikir ( cognitive domain )
·         Ranah nilai dan sikap ( affective domain )
·         Ranah keterampilan  ( psychomotor domain )
 Dalam konteks evaluasi hasil belajar maka, ketiga domain itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi .
2.1 Ranah / domain kognitif
Ranah ini mecncakup kegiatan mental otak. Menurut bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah ini. Dalam ranah kognitif ini terdapat  enam jenjang proses berfikir , mulai dari jenjang rendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi yaitu sebagai berikut :
1.      Pengetahuan (Knowledge ) / C – 1
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh ketika seorang peserta didik disuruh untuk membahas mengenai lingkaran maka ia dapat menjelaskan mengenai tentang definisi, bagian- bagiannya dengan baik dan benar.
2.      Pemahaman ( comprehension ) / C – 2
Kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Pemahaman tersebut diperoleh dari mengetahui seperti: definisi,informasi, peristiwa, dan fakta yang kemudian disusun kembali dengan struktur kognitif yang ada.
3.      Penerapan (application ) / C – 3
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori,prinsip dsb di dalamberbagai situasi. Sebagai contoh, peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Analisis ( analysis ) / C – 4
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah materi matematika ,dan kemudian  membanding-bandingkan tingkat kesulitan materi, dan menggolongkan setiap materi sesuai dengan tingkat kesulitannya.
5.      Sintesis ( Synthesis ) / C – 5
Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, peserta didik mampu membuat sebuah karya/karangan dan dalam karangan tersebut peserta didik mampu mengemukakan secara jelas tentang karangan yang dibuatnya.
6.      Penilaian ( Evaluation ) / C – 6
Penilaian merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat menimbang-nimbang tentang manfaat yang akan peroleh dari perilaku disiplin dan mampu menunjukan akibat negative dari perilaku malas.
2.2 Ranah / Domain Afektif
Ranah ini pada mula-mula dikembangkan oleh David R. Krathwohl dkk (1974). Ranah afektif adalah ranah / kawasan yang berkaitan dengan dengan aspek – aspek emosional seperti perasaan , minat, nilai dan sikap serta kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Ciri – ciri dari hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku seperti : perhatian peserta didik dalam mengikuti pembelajaran matematika, kemudian memiliki dorongan yang kuat dalam mengikuti pelajaran tersebut serta mempunyai rasa hormat terhadap guru yang mengajar matematika tersebut.
Pada ranah afektif ini David R. Krathwohl dan kawan-kawan  (1974) membagi secara rinci mejadi 5 jenjang yaitu sebagai berikut :
1)      Penerimaan (receiving/attending)
Receiving adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan/stimulus dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah,situasi dan lain – lain. Receiving ini juga sering kali diartikan sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai  yang diajarkan kepada mereka dan mereka besedia untuk memfokuskan perhatian pada saja objek yang diajarkan. Sebagai contoh : peserta didik menyadari bahwa perbuatan menyontek itu tidak baik sehingga harus mereka tinggalkan.
2)      Sambutan (Responding)
Sambutan ini mengandung arti adanya partisipasi aktif, jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya. Sebagai contoh dari jenjang responding ini salah satunya yaitu timbulnya keinginan untuk mempelajari lebih dalam lagi materi matematika misalnya tentang turunan dll.
3)      Penilaian (valuing)
Valuing disini artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek sehingga apabila hal tersebut tidak dikerjakan dirasakan akan membawa kerugian bagi dirinya. Dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar ,peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan saja tetapi ia juga mampu menilai konsep atau fenomena yaitu “baik atau buruk “ bila suatu ajaran gtelah mampu mereka nilai “itu adalah baik” maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian dan kemudian nilai tersebut akan diingat dalam dirinya.
4)      Pengorganisasian (organization)
Organization disini artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal yang membawa kepada perbaikan umum. Mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu system organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai yang lain. Sebagai contoh dari hasil belajar jenjang ini adalah misalnya seorang peserta menyukai materi matematika tentang bangun ruang maka ia akan menempatkan materi bangun ruang tersebut pada tingkatan yang amat penting kemudian baru menyusul materi lain yang ia rasakan agak penting dan seterusnya.
5)      Karakterisasi ( characterization)
Karakterisasi yaitu keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki  seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya, disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam suatu hierarkhi nilai. Jika panda tahap pengorganisasian system nilai sudah dapat disusun maka susunan tersebut belum konsisten artinya masih dapat berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi maka, pada tahap ini nilai tersebut sudah tertanam secara konsisten pada system dan telah mempengaruhi emosinya. Sebagai contoh dari hasil belajar tahap ini adalah peserta didik telah memiliki kebulatan tekat yang kuat untuk menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang akan ditekuninya untuk meningkatkan pendidikan diindonesia.
2.3 Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan yang melibatkan fungsi system syaraf dan otot serta fungsi psikis. Kawasan / ranah terdiri dari :

1)      Kesiapan ( set )
Kesiapan ini berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya, mempersiapkan alat, menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab pertanyaan.
2)      Peniruan ( imitation )
Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamati walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. Sebagai Contoh : seorang anak yang meniru bahasa tanpa mengetahui arti yang ditirunya.
3)      Membiasakan ( habitual )
Membiasakan adalah seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh sekalipun ia belum dapat mengubah polanya.
4)      Menyesuaikan ( adaptation )
Menyesuaikan yaitu seseorang dapat melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat ketrampilan itu dilaksanakan.
5)      Menciptakan ( origination )
Dalam hal ini seseorang sudah mampu menciptakan suatu karya dengan kemampuannya atau keterampilannya sendiri.
 sumber referensi :
1.                                       http://fisikasma-online.blogspot.com/2011/10/taksonomi-bloom-ranah-kognitif.html
2.                                       Prof.drs. Sudijono Anas ,2007. pengantar evaluasi pendidikan, Jakarta:PT rajagrafindo persada.
3.                                       http://id.wikipedia.org/wiki/ Taksonomi_Bloom.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Tentang Blog Ini

Blog ini di buat pada bulan December 2011